Jangan Ada Kusta di Antara Kita. Segera Tangani dan Rangkul Penderita! - Kumpulan Artikel Unik Dan Menarik

Jangan Ada Kusta di Antara Kita. Segera Tangani dan Rangkul Penderita!

Kusta Bisa Disembuhkan

Saat sedang menulis artikel sambil menikmati secangkir kopi hangat, sebuah pesan masuk ke whats app saya. Saya berusaha meraih ponsel yang terhalangi oleh gelas dan membuka pesan tersebut. Ternyata kawan saya ingin mengajak hangout ke cafe miliknya di bilangan Cipete, Jakarta Selatan. Sebenarnya saya sangat tertarik untuk menerima ajakan tersebut, tapi sayangnya waktunya kurang tepat, karena hari itu saya harus merampungkan sebuah artikel yang sudah mendekati deadline.

Sambil menyeruput kopi yang masih tersisa setengah gelas, jari jemari saya terus mengetik di atas laptop yang usianya telah mencapai satu dekade. Sejenak saya berhenti mengetik dan segera membalas pesan dari kawan saya. 

"Sorry ya bro, kayaknya hari ini nggak bisa hangout dulu, soalnya mau ngerampungin artikel kusta". Begitu isi pesan balasan yang saya kirimkan. Tidak berapa lama, kawan saya membalas pesan yang saya kirimkan. "Penyakit kusta ya?? Kayaknya pernah denger deh, tapi nggak tau apaan itu penyakit kusta". Tanya kawan saya penuh rasa penasaran.

Kami pun saling berbalas pesan. Obrolannya kini malah mengarah ke seputar penyakit kusta. Berhubung kawan saya semakin penasaran, saya pun memberikan sedikit penjelasan mengenai penyakit kusta. Kebetulan sekali, saya memang pernah mengikuti webinar yang mengangkat masalah kusta, yaitu "Peran Penting Media untuk Mengubah Stigma Seputar Kusta", sehingga saya bisa sharing informasi ini kepada kawan saya.

Mengenal Penyakit Kusta

Dari percakapan singkat di atas, saya bisa mengambil sebuah kesimpulan sederhana. Ternyata masih banyak orang yang belum tahu tentang penyakit kusta. Padahal penderita kusta di Indonesia masih banyak lho. Apalagi Indonesia masih menduduki peringkat ketiga penyakit kusta terbanyak di dunia, setelah India dan Brazil. 

Kusta Bisa Sembuh Total

Penyebab masih tingginya penderita kusta dikarenakan terlambatnya penanganan akibat minimnya pengetahuan masyarakat tentang gejala kusta, serta masih tingginya stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan kusta atau orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK).

Sebagian masyarakat mengenal kusta dengan sebutan lepra, merupakan sebuah penyakit infeksi bakteri kronis (Mycobacterium Leprae) yang menyerang jaringan kulit, saraf tepi dan saluran pernapasan. Gejala awal yang bisa dirasakan adalah mati rasa atau rasa lemah pada bagian tungkai dan kaki. Lalu diikuti timbulnya lesi pada kulit. 

Jika penderita kusta berobat secara dini dan teratur, maka sebenarnya penyakit kusta itu dapat disembuhkan tanpa mengalami kecacatan. Hal penting lainnya yang perlu diketahui adalah bahwa kusta bukanlah sebuah kutukan, guna-guna maupun penyakit turunan.

Gejala Awal Kusta

Gejala kusta pada setiap penderita biasanya berbeda-beda, akan tetapi gejala kusta baru akan terlihat setelah bakteri kusta berkembang biak dalam tubuh penderita selama 20 - 30 tahun. Beberapa gejala awal kusta yang bisa dirasakan penderitanya antara lain :

  • Mati rasa pada kulit, termasuk kehilangan kemampuan merasakan suhu, sentuhan, tekanan atau rasa sakit
  • Muncul lesi pucat, berwarna lebih terang dan menebal pada kulit
  • Timbul luka, tapi tidak terasa sakit
  • kehilangan alis dan bulu mata
  • Pembesaran saraf yang pada umumnya terjadi di area lutut dan siku
  • Otot melemah, terutama pada otot kaki dan tangan

Gejala Lebih Lanjut Penyakit Kusta

Jika gejala awal kusta tidak segera ditangani, maka lambat laun kusta bisa berubah menjadi penyakit yang mengerikan bagi si penderita. Hal ini ditandai dengan munculnya kecacatan pada beberapa anggota tubuh, di antaranya :

  • Kaki : mati rasa pada telapak kaki, jari-jari mengalami kiting, memendek dan putus-putus
  • Tangan : mati rasa pada telapak tangan, jari-jari mengalami kiting, memendek dan putus-putus
  • Mata : mata tidak bisa menutup dengan sempurna, bahkan bisa menyebabkan kebutaan

Mencegah Kusta

Seperti yang saya jelaskan di awal, bahwa kusta sebenarnya bisa dicegah dan dapat sembuh seperti sedia kala. Adapun, langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk pencegahan kusta adalah sebagai berikut :

  1. Imunisasi BCG pada bayi dapat membantu mengurangi kemungkinan terkena kusta
  2. Segera berobat ke klinik, puskesmas atau rumah sakit jika mengalami kelainan pada kulit, seperti bercak putih dan mati rasa
  3. Cacat kusta dapat dicegah dengan minum obat dan rutin memeriksakan diri ke klinik, puskesmas atau rumah sakit

Ketiga langkah di atas juga dapat memutus mata rantai penularan serta mencegah kecacatan baru atau kemungkinan menjadi lebih parah. Ada fakta menarik terkait penyakit kusta yang perlu Anda ketahui. Penyakit kusta merupakan penyakit menular, tapi tidak mudah menular. Hanya sebagian kecil saja yang bisa tertular kusta, yakni yang memiliki daya tahan tubuh yang rendah terhadap kuman kusta.

Sepak Terjang KBR dan NLR Indonesia

Tidak banyak masyarakat yang mengetahui sepak terjang dari KBR dan NLR Indonesia. KBR atau Kantor Berita Radio merupakan platform berita berbasis jurnalisme independen yang didirikan sejak tahun 1999. Konten-konten KBR telah banyak digunakan di lebih dari 500 radio di seluruh Indonesia dan lebih dari 200 radio di Asia dan Australia.

Program NLR Indonesia

Sementara, NLR Indonesia adalah sebuah organisasi non-pemerintahan (LSM) yang mendorong pemberantasan kusta dan inklusi bagi orang dengan disabilitas termasuk akibat kusta. Bisa dibilang NLR lebih fokus untuk memberantas kusta serta mengubah stigma masyarakat terhadap penyakit kusta itu sendiri.

Jujur saja, saya sangat kagum dengan kedua lembaga yang sangat fokus terhadap masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat di Indonesia. Salah satunya adalah pemberantasan penyakit kusta di Tanah Air.

Live Youtube dari Ruang Publik KBR

Pada suatu kesempatan, saya dan beberapa rekan blogger bersama Komunitas Sahabat Blogger (KSB) mengikuti sebuah acara yang sangat menarik di Channel Youtube Berita KBR yang juga didukung oleh NLR Indonesia. Kali ini mengangkat tema "Geliat Pemberantasan Kusta dan Pembangunan Inklusif Disabilitas di Tengah Pandemi".

Talk Show Bareng Channel YouTube Radio KBR

Acara sarat akan wawasan ini dikemas dengan sangat menarik dan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh orang awam sekalipun. Berikut ini adalah dua narasumber yang mengisi acara tersebut :

1. Komarudin, S. Sos. M. Kes. 
Wakil Supervisor Penyakit Kusta Dinkes Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan

2. DR. Rohman Budijanto, SH. MH.
Direktur Eksekutif The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi-JPIP Lembaga Nirlaba Jawa Pos yang bergerak di bidang otonomi daerah

Penanganan Kusta di Tengah Pandemi

Topik pembahasan semakin seru, saat narasumber membahas mengenai masalah penanganan kusta di tengah pandemi. Upaya deteksi dini penemuan kusta di awal-awal pandemi memang terjadi hambatan. Namun penanganan kusta masih tetap dilakukan dengan segala keterbatasannya, karena jika dihentikan, dikhawatirkan akan terjadi penularan yang lebih luas lagi di tengah masyarakat.

Menurut Bapak Komarudin, Wasor Kusta Dinkes Kabupaten Bone mengatakan jika sebenarnya jumlah penderita kusta mengalami penurunan saat pandemi. "Kalau kita membandingkan temuan kasus kusta tahun 2019 dengan tahun 2020, itu terjadi penurunan. Dari 195 kasus pada tahun 2019, itu menjadi 140 di tahun 2020. Jadi terjadi penurunan sekitar 55 orang atau sekitar 28 persen".

Hal ini mengindikasikan jika penderita kusta sebenarnya masih ada, hanya saja tidak terekspos semenjak pandemi corona menyerang. Maka dari itu, berbagai pihak terus melakukan upaya deteksi dini dalam penemuan penyakit kusta di awal pandemi ini. 

Strategi Pemberantasan Kusta di Kabupaten Bone

Sebagai bagian tanggung jawab terhadap masyarakat, Bapak Komarudin banyak menjelaskan perihal penanganan kusta di Bone. Hal ini tentu membuat para peserta menjadi semakin tertarik untuk menyimak, karena penasaran strategi apa saja yang telah diterapkan untuk menanggulangi kusta di Bone.

Ada pandemi. Bahkan masing-masing puskesmas memiliki kebijakan tersendiri mengenai penanganan kusta di tengah masyarakat saat pandemi. Seluruh petugas harus memakai APD saat menjalankan tugas menangani kasus kusta, jika tidak memakai APD, maka petugas tidak dibayarkan oleh pihak puskesmas.

Untuk memberantas kusta di Bone, Pemerintah setempat  melalui perangkatnya kerap mengajak masyarakat untuk selalu mematuhi prokes. Tujuannya agar perekonomian bisa tetap berjalan dengan lancar. Jika perekonomian bagus, maka kesejahteraan masyarakat juga akan bagus. 

Bapak Komarudin juga mengungkapkan bahwa ada beberapa program kerja serta strategi yang telah disusun bersama puskesmas dalam upaya pemberantasan kusta di Bone, di antaranya adalah sebagai berikut :

  • Pemberian obat pencegah kusta
  • Memeriksakan penderita kusta
  • Melakukan kegiatan survey anak sekolah
  • Mengkampanyekan eliminasi kusta di desa-desa
  • Memberdayakan dan melibatkan kader yang ada di desa (baik yang telah terlatih kusta maupun yang belum terlatih) untuk melakukan pendataan kelainan kulit yang mengalami bercak-bercak, dari hasil pendataan tersebut, nantinya akan diberikan penyuluhan di desa maupun di sekolah tentang penyakit kusta
  • Mendeteksi gejala dini kusta, yakni dengan mencari masyarakat yang memiliki kelainan pada kulit, seperti panu, kudis atau kurap. Setelah ditemukan kelainan atau gejala kusta, maka dilakukan penanganan lebih lanjut

Rangkul Penderita Kusta, Jangan Kucilkan!

Bagi masyarakat yang masih mengucilkan penderita kusta, ini berarti masyarakat tersebut "sakit". Banyak faktor penyebabnya mengapa pengucilan masih saja terjadi, salah satunya disebabkan karena masih tingginya stigma negatif terhadap penderita kusta. Hingga parahnya muncul ketakutan berlebihan pada kusta atau biasa disebut Leprofobi.

Karena sikap diskriminatif tersebut, menyebabkan penderita kusta merasa takut jika ia menyandang kusta, takut bergaul dan berkumpul dengan orang yang sehat, sehingga menyebabkan ia lebih suka berada dalam kelompoknya sendiri. Miris memang. Namun faktanya seperti itu.

Jika hal ini terus saja terjadi, bukan tidak mungkin akan menghambat proses pemberantasan kusta di Indonesia, karena penderita kusta merasa malu, sehingga enggan untuk memeriksakan diri.

Sudah saatnya kita semua membuang jauh-jauh stigma negatif tentang kusta. Ingat! Penderita kusta bisa sembuh total dan penyakit kusta tidak mudah menular. Maka dari itu penderita kusta perlu kita rangkul, agar mereka bisa kembali hidup normal dan dapat berkarya bersama masyarakat.

Seperti yang telah dilakukan oleh Jawa Pos. Salah satu perusahaan media besar di Indonesia ini justru banyak merekrut karyawan dari kalangan penderita kusta dan penyandang disabilitas. Siapapun memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja dan berkarya, termasuk para penyandang disabilitas sekalipun.

Menurut DR. Rohman Budijanto, SH. MH. (Direktur Eksekutif The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi-JPIP Lembaga Nirlaba Jawa Pos yang bergerak di bidang otonomi daerah), di Jawa Pos sendiri tidak memandang fisik dalam hal perekrutan ketenagakerjaan. Jika ia berkompeten, mengapa tidak?

Pola rekrutmen sama seperti karyawan biasa pada umumnya. Di Jawa Pos juga tidak membatasi etnis, agama dan penyandang disabilitas. Siapapun yang menguasai ilmu dan kemampuan tertentu, silakan saja mendaftar untuk diuji kompetensinya sesuai dengan lowongan kerja yang ditawarkan.

Konklusi

Indonesia masih darurat kusta. Jangan lengah. Jika tidak segera ditangani sedini mungkin, maka akan semakin tinggi angka penderita kusta baru. Sudah semestinya berbagai pihak terkait saling bahu membahu untuk menangani pemberantasan penyakit kusta di Indonesia.

Penerapan strategi pemberantasan kusta sangat perlu dilakukan, agar penanganannya bisa lebih efisien dan lebih tepat sasaran, sehingga mampu menekan angka penderita kusta. Manfaatkan juga kemajuan teknologi yang ada.

Strategi Pemberantasan Kusta

Stop diskriminasi! Jangan pernah mengucilkan penderita kusta. Langkah yang seharusnya dilakukan adalah segera tangani dan cegah kusta sedini mungkin serta rangkul penderita, sehingga tidak ada lagi kusta di antara kita!

Sumber referensi :

[alodokter.com] - Kusta - Gejala, penyebab dan mengobati
Live Talk show - Channel YouTube Berita KBR
Akun Instagram - NLR Indonesia
Akun Instagram - KBR.id

Sumber foto :

Infografis - www.misterunik.com
Akun Instagram - NLR Indonesia

Newest
Previous
Next Post »

55 comments

  1. harus support terus dan beri ruang agar mereka tetap berkarya bagi pada disabilitas yang ingin bekerja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes exactly. Jangan kasih kendor, kasih mereka kesempatan untuk berkarya

      Delete
  2. Ya Allah semoga masyarakat Indonesia dijauhkan dari kusta, sedih ya mba kalau nggak bisa tertangani ini. Sehat-sehat kita semua

    ReplyDelete
  3. Setuju nih jangan ada kusta di antara kita dalam artian kt yg sehat jgn smpai memperlakukan penderita dengan tidak baik. Semoga LSM yg terlibat selalu semangat bersosialisasi dan membantu penderita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita yang sehat juga ikut membantu mengedukasi masyarakat soal kusta, biar penyandang kusta pada cepat sembuh.

      Delete
  4. Pencegahan kusta masih dapat dilakukan kok, terlebih lagi dalam merangkul penderita yang sudah tampak gejalanya untuk mendukungnya lekas berobat. Dengan begitu dapat mengeliminasi jumlah kasus kusta ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya yakin masih bisa Mba Fenni. Asalkan kita sama-sama bahu membahu memberantas kusta di Indonesia.

      Delete
  5. Secara langsung aku belum pernah bertemu orang yang memiliki penyakit kusta. Namun aku pernah dengar selentingan bahwa penyakit ini memang dihindari sekali. Maksudnya, orang-orang akan cenderung menjauhi orang yang memiliki penyakit ini. Katanya itu adalah kutukan. Padahal kan bukan.

    Edukasi tentang ini semoga cepat tersebar ke seluruh masyarakat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mereka menghindar karena kurang pemahaman akan penyakit kusta. Mungkin kalau sudah paham, mereka nggak akan melakukan hal ini. Aaamiiin, biar masyarakat semakin tahu apa itu kusta.

      Delete
  6. Bersyukur banget masih ada yang mempedulikan penyakit yang masih ada di tengah masyarakat Indonesia ini. Mengetahui tentang gejala penyakit kusta, biasanya orang-orang memang menganggap sepele, tidak apa-apa. Akibatnya terlambat pengobatannya. Semoga saja penyakit ini pun segera berlalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Antara menyepelekan dan ketidaktahuan Mba Wiwin. Akhirnya ketika udah parah, baru deh berobat. Aaamiiin, saya aminkan ya biar kusta bisa perlahan hilang di Indonesia dan juga corona bisa hilang dari Bumi.

      Delete
  7. Memang ya Mas kadang masih ada stigma negatif yang beredar di kalangan masyarakat tentang penyakit kulit ini. Ketidaktahuan bisa menyebabkan pada penanganan dan sikap yang buruk di lingkungan sosial. Harus bekerja bersama sama untuk mengusir kusta dari Indonesia. Agar penderita sembuh dan bisa ikut menyumbangkan karya lewat pekerjaan atau profesi mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mas, harus lebih giat lagi sosialisasi soal penyakit kusta, biar nggak selalu muncul stigma negatif di masyarakat.

      Delete
  8. Nah iya. Aku kaget lho waktu ikut webinar, ternyata dunia belum bebas kusta. Padahal udah ada obatnya lho. Perlu sosialisasi lebih giat lagi nih. Supaya tidak ada diskriminasi pada penderita kusta

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, kalo mau dicari setiap pelosok, pasti masih ada saja penyandang kusta. Makanya harus lebih gencar sosialisasi lagi biar tertangani dengan baik penyandang kusta di mana pun berada di Tanah Air.

      Delete
  9. penyakit ini sudah culup lama dari zaman dulu ya dan masih ada samoai sekarang, semoga kita semua terhidnar dair penyakit ini dengan tetap menjaga kebersihan badan dan lingkungan, dan masyarakat yang terkena semoga segera disehatkan, aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, sudah lama sekali dan masih ada sampai sekarang ini. Aaamiiin...

      Delete
  10. Ya Allaah bisa separah ituu ya kak kalau dibiarin :((
    Duh, sedihh.. jujur aku belum pernah ketemu orang dengan kusta kek gini. Belum pernah liat secara langsung gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apapun akan semakin parah jika terjadi pembiaran, termasuk penyakit kusta ini. Makanya sebaiknya secepatnya segera ditangani sebelum terlambat.

      Delete
  11. Saya tau penyakit kusta pertama kali waktu nonton sebuah serial televisi. Dan memang waktu itu dianggap sebagai penyakit kutukan atau hasil guna-guna. Untunglah sekarang pemahaman tentang penyakit ini semakin terbuka dan masyarakat lebih perhatian dalam hal pengobatannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga saja ke depannya masyarakat semakin tau apa itu kusta sebenarnya.

      Delete
  12. Banyak sekali informasi mengenai kesehatan yg saya dapatkan di artikel ini, dan paling sedih karena pernah mendengar bahwa penyakit ini adalah penyakit kutukuan, dan saya yakin masih banyak yg belum paham dan teredukasi dengan baik tentang penyakit kusta.

    Terima kasih kak sharingnya, semoga yg membaca artikel ini semakin bertambah dan tetap berstikma baik terhadap suatu penyakit

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih juga sudah berkunjung ke blog ini ya Mba. Semoga bermanfaat.

      Delete
  13. Gejala kusta ini cukup mengerikan juga, ya. Memang harus segera ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Dan kita, jangan malah mengucilkan mereka.

    Imunisasi BCG penting banget, ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ada gejala seperti di atas, sebaiknya segera periksa, biar bisa ditangani dengan cepat. Sehingga bisa ketauan apakah itu kusta atau bukan?

      Delete
  14. Akibat takut dikucilkan, para penderita kusta malah berusaha memungkiri penyakit dan tidak mau memeriksakan diri serta berobat secara benar.
    Makanya kita perlu mengedukasi masyarakat bahwa kusta bisa disembuhkan dan penderita kusta tidak bisa menyeramkan itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Kuncinya ada di edukasi dan sosialisasi soal kusta ke masyarakat luas.

      Delete
  15. Masih banyak emang yg beranggapan kalo kusta itu penyakit yg ga bisa sembuh, maka dr itu kita yang tau ini harus bnyak" sosialisasi. Agar masyarakat ga selalu mengucilkan para penderita kusta

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perlu lebih gencar lagi sosialisasi dan edukasi soal kusta ini.

      Delete
  16. Tulisan yang lengkap untuk sebuah informasi dan edukasi mengenai kusta yang sebenarnya belum punah di Indonesia.
    Ada sepupu yang bekerja sebagai nakes di RS Kusta Makassar. Sungguh darinya saya tahu bentuk kusta dan cirinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti sudah pernah melihat secara langsung kah?

      Delete
  17. Sampai saya ikut webinar dengan topik serupa, saya mengira penyakit kustaa itu sudah nggak ada, lho. Ternyata di Indonesia masih banyak ya. Semoga dengan edukasi yang tepat seperti ini penderita kusta mendapat penanganan yang tepat dan nggak dikucilkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Indonesia malah menduduki peringkat ketiga di dunia. Memperihatinkan sekali ya.

      Delete
  18. Terus terang aku senang sekali ada yang memperhatikan penderita kusta seperti ini. Dan penting banget agar banyak orang tahu bahwa penderita kusta bisa sembuh total bila diobati dengan tuntas

    ReplyDelete
  19. Penyakit kusta harus dibrantas ya supaya gak terjadi kecacatan & menularkan ke lebih banyak orang. Jangan kucilkan mereka. Sedih juga ya ternyata di Indonesia ternyata masih banyak kasusnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya harus diberantas sampai ke akarnya. Betul Mba, prihatin sekali dengan kondisi Indonesia.

      Delete
  20. Sebelum mengikuti webinar ini aku mendengar ada penyait kusta itu pada saat masih SD dahulu. Dan kaget banget ternyata kusta masih ada di Indonesia, semoga saja penanganannya lekas tuntas ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga pernah mendengar penyakit ini waktu SD puluhan tahun yang lalu. Dan ternyata penyakit ini masih ada hingga sekarang.

      Delete
  21. Untuk memberantas kusta di Bone, Pemerintah setempat melalui perangkatnya kerap mengajak masyarakat untuk selalu mematuhi prokes.

    penting ini kalo sudah menyangkut prokes....semangat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Prokes memang wajib dijalani saat pandemi seperti ini. Di mana pun dan siapa saja wajib patuh.

      Delete
  22. Suka sekali dengan judulnya. Saya bersyukur pernah ikut diskusi publik dengan tema yang sama jadi dapat pencerahan mengenai penyakit yang sering dianggap sebagai kutukan ini. Yah semoga dengan banyaknya edukasi maupun munculnya postingan-postingan positif seperti ini bisa menghilangkan stigma negatif terhadap penderita kusta sebab benar yang mereka butuhkan adalah rangkulan kita. Setidaknya Indonesia bisa bebas dari kusta jika semua masyarakat paham dan tidak mengasingkan penderitanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiiin, semoga saja ya para blogger juga bisa turut menyosialisasikan informasi soal kusta ke masyarakat.

      Delete
  23. aku kemarin sharing ke ibu, tentang kusta
    lalu ibu tanya, "gimana cara nyembuhin kusta?"
    alhamdulillah bisa menjawab dgn baik
    soalnya kupikir kusta gak bisa disembuhin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Great! Ilmunya langsung dipraktekin ke orang lain ya. Biar informasi positifnya bisa cepat menyebar.

      Delete
  24. Dari aku masih kecil sampe sekarang di usia siap nikah, kusta emang selalu identik dg sesuatu yang negatif. Mungkin bener sih ya, karena kesan negatif itu para penderita kusta memilih mengucilkan diri juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena ketidaktahuannya inilah stigma negatifnya jauh lebih besar dibanding pandangan positifnya. Sehingga muncul diskriminasi terhadap penyandang kusta.

      Delete
  25. Setujuu Mas Hendra,, jangan ada lagi dong kusta di Indonesia raya ini,, jika ada yang terdeteksi kusta jgn dikucilkan tetapi langsung dibawa berobat ke Puskesmas ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kalau ada yang terdeteksi, langsung diperiksa secepatnya, biar nggak terlambat pengobatannya.

      Delete
  26. Aku pun baru benar2 ngeh soal penyakit kusta setelah ikut sosialisasi tentang kusta beberapa waktu lalu. Kalau nggak pernah ikutan, ya mungkin sampai sekarang aku juga nggak bakal tahu.

    Sedih sih masih banyak orang yang percaya mitos dan membuat stigma penderita kusta jadi buruk. Alhamdulillah ada organisasi2 yang mau turun ke lapangan untuk campaign dan edukasi tentang kusta, serta memberikan perawatan juga. Saluut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Saya juga jadi terbuka wawasan soal kusta sejak ikutan webinar dari KBR dan NLR Indonesia.

      Delete
  27. Penyakit apapun selain kusta sepertinya memang banyak yang edukasinya belum merata. Jadi masih bingung dan agak sulit bagaimana menanggapi nya. So, edukasi ini memang penting dan diperlukan sekali yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teramat sangat diperlukan. Biar masyarakat teredukasi dengan baik seputar kusta ini, sehingga punya wawasan yang luas soal kusta.

      Delete
  28. Miris bgt ya bang. Masyarakat beranggapan kalo penyakit kusta itu kutukan, sehingga orang terdekat banyak yg mengucilkannya. Padahal penyakit itu bisa disembuhkan. Harusnya kita rangkul mereka agar tidak minder

    ReplyDelete


EmoticonEmoticon